
Jusuf Kalla bukan seorang akademisi, bukan pula aktivis sosialis. gelar akademisnya Drs. lulusan Fakultas ekonomi Universitas Hasanuddin. Ia pengusaha yang lahir dan besardengan prinsip mencari untung.
Anehnya, ia seperti seorang “sosialis”. Dia pengusaha besar yang bergelut dengan kapitalisme, tapi jiwanya seorang yang pro rakyat. Bukan kampus, tapi lingkungan keluarganyalah yang membuatnya jadi “sosialis”. Ayahnya, Hadji Kalla, seorang yang kaya raya di Makassar. Ibunya, Athirah, seorang aktivis Muhammadiyah. Kalla yang pengusaha adalah tokoh Nahdlatul Ulama.
Dua organisasi Islam besar itu merupakan perwujudan dari idealisme Hadji Kalla dan Athirah untuk mengabdi kepada masyarakat. Rumah mereka di Jl Andalas, Makassar, misalnya bebas ditiduri tukang becak. Orang kaya biasanya ingin hidup nyaman, tidak mau diganggu, apalagi oleh pemandangan kotor seperti tukang becak. Hadji Kalla tidak begitu. Ia, yang sederhana dengan topi putih di kepalanya, menikmati hidup justru dengan orang miskin.
Kepeduliannya pada agama juga sangat besar. Banyak masjid, banyak pula pesantren, yang dibantu keluarga itu. Banyak universitas besar di Makassar dibantu oleh keluarga ini.
Dalam suasana keluarga seperti itulah Kalla tumbuh dan besar. Ia menikmati kehidupan sebagai orang kaya, sekaligus mewarisi jiwa sosial orang tuanya. Itulah pula yang melahirkan benih-benih idealisme Kalla.
Dengan bekal idealisme itu, ia meninggalkan kehidupan mewah sebagai orang kaya. Sejak mahasiswa ia memimpin organisasi mahasiswa, berjuang bersama KAMI angkatan 66, menjadi Ketua HMI Cabang Makassar (kantor HMI Cabang Makassar sampai sekarang merupakan sumbangan Kalla), dan naik kapal laut ke Jakarta untuk ikut bersama mahasiswa Jakarta menggelar demonstrasi anti Orde Lama.
Setamat dari Unhas, JK menjadi anggota DPRD termuda di Sulsel, lalu beberapa kali menjadi anggota MPR, memimpin Kadin, memimpin perusahaan Kalla Group, mendirikan dan memimpin yayasan sosial (pendidikan dan keagamaan), menjadi Ketua Forum Antarumat Beragama Sulsel sampai sekarang, menjadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian di era Gus Dur, menjadi Menko Kesra di era Megawati, dan terakhir menjadi Wakil Presiden.
Kalla selalu mengatakan, ia menjadi calon presiden bukan untuk mencari kemuliaan bagi dirinya, tapi kemuliaan bagi bangsanya. Hartanya saat ini Rp 300 miliar, lebih dari cukup untuk menikmati kemuliaan pribadi. Hartanya produktif, seperti hotel, mal, dealer mobil, tanah, tabungan –yang cukup untuk dinikmati anak dan cucu-cucunya.
Justru dengan menjadi calon presiden, Kalla menghadapi risiko besar tabungannya terkuras, dan bila Kalla, kehormatannya menjadi taruhan. Risiko yang besar itu menjadi kecil di tengah ambisinya mewujudkan apa yang dia yakini penting untuk bangsa ini: kemandirian dan martabat bangsa melalui percepatan pembangunan ekonomi.
Ideologi ekonominya sosialis, pro rakyat. Suatu waktu ia marah besar ketika Pasar Sentral di Makassar direnovasi dan pasar modern itu kemudian akan menggusur ribuan pedagang tradisional. Kebetulan, pasar sentral yg semrawut itu berdiri di dekat kantor NV Hadji Kalla.
Ia percaya bahwa pembangunan ekonomi di sektor riil akan menolong mayoritas rakyatnya yang miskin.
Untuk menaikkan taraf hidup rakyat, ia prosubsidi tapi untuk sementara. Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi harus dipacu, sembari pada saat yang sama, biaya hidup rakyat yang mendasar seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi harus ditekan sekecil mungkin.
Menaikkan gaji, bagi JK, bukanlah opsi yang selalu mengenakkan bagi pengusaha. Padahal, buruh selalu ingin agar gajinya naik.
JK menawarkan solusi, seperti dilansir kompas.com. JK mengatakan, perusahaan akan sukarela menaikkan gaji bila ongkos listrik dan bunga pajak murah, birokrasi yang mudah dan infrastruktur yang lengkap.
“Ini yang harus kita perbaiki. Jangan kita dipenuhi oleh produk murah. Jangan hanya sekedar ingin jaga stabilitas moneter, rakyat dikorbankan. Jangan menekan buruh, kita harusnya menekan ongkos listrik, menekan birokrasi, bunga pajak dan juga infrastruktur,” tutur JK di depan buruh.
JK juga menjanjikan membangun rumah di dekat pabrik dan menjamin transportasi murah agar buruh dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. Menjamin pemberian bunga usaha yang adil bagi pengusaha besar dan kecil. Nah, menurut JK, ini semua akan terealisasi jika dirinya dan Wiranto terpilih dalam Pilpres mendatang.
Beda dengan Neoliberal
Kalla bukan tokoh yang antiasing. NV Hadji Kalla sebagai dealer mobil Toyota di Indonesia timur bermitra dengan Jepang. Kekayaan JK justru tumbuh, antara lain, dari bisnis ini.
Bagi Kalla, asing tetap penting, sejauh tetap menghormati martabat bangsa Indonesia dan sejauh tidak merugikan rakyat.
Pandangan Kalla mengenai relasi antara negara dan rakyat diungkapkan pada acara bersama Relawan Relawan Berani Bangkit Mandiri di Wisma Perwari, Menteng, Jakarta, Sabtu (6/6). Hadir di sini tokoh buruh Dita Indah Sari, seperti dilansir inilah.com.
Menjelaskan perbedaan dirinya dengan penganut neoliberalisme, Kalla mengatakan, “Para liberalis mengatakan jangan campur tangan, biarkanlah swasta dan asing menguasai. Kita diam saja, terima beres saja. Saya bilang tidak mungkin, negara itu harus menjamin setiap warganya. Inilah letak perbedaan para orang liberalis dengan saya.”JK mengatakan, bila semua dikendalikan oleh swasta dan asing tanpa ada campur tangan pemerintah, ia mempertanyakan posisi dan fungsi pemerintah. Ia bertanya apa gunanya ada sebuah negara.”Mereka itu tidak mau menjaminnya, mereka biarin pasar berjalan dan saya bilang anda tidak menjamin itu. Apa gunanya negara klo negara tidak campur tangan untuk rakyatnya,” kata JK.
Menurutnya, yang dapat menyelesaikan masalah bangsa ini adalah bangsanya sendiri. Yang dapat memajukan bangsa ini adalah kerjasama yang didasari atas pemahaman ideologi bangsa bahwa bangsa adalah yang terpenting. JK mengaku dirinya akan menjalankan amanah bangsa untuk kepentingan semua pihak.
“Ini semua tergantung dengan paham apa yang kita jalankan untuk bangsa ke depan. Saya sependapat tidak ada bangsa yang bisa maju selain bangsa itu sendiri yang ingin maju. Dan yang dimaksud ingin maju adalah keyakinannya, sumber alamnya, manusiannya dan pemimpinnya yang menjadi kekuatan yang besar.,” ungkapnya
JK percaya bahwa keyakinan pemimpinnya, sumber daya alam, dan manusia Indonesia merupakan modal dasar kita sebagai bangsa. Modal ini harus dikelola agar bangsa ini tumbuh dan berkembang menjadi mandiri dan bermartabat.
JK menyatakan, bangsa ini tidak akan bisa maju kalalu selalu minta bantuan, memakai otak orang, otot orang dan menerima bersih. Sementara kekayaan Indonesia diambil semena-mena dan merasa puas akan itu.
“Itulah yang berjalan sekian lama, kita membiarkan bangsa ini dikelola kemudian kita menerima seadanya dan kita ketinggalan dengan bangsa lain,” imbuhnya.
Keyakinan JK akan kemampuan bangsa sendiri ia wujudkan dalam berbagai proyek pembangunan strategis seperti pembangunan Bandara Hasanuddin, Lombok, dan Medan. Konsultan asing dan kontraktor asing yang sudah mentradisi di setiap pembangunan bandara di Indonesia ia singkirkan. Hasilnya, bangunan bandara tetap bagus, bahkan sangat bagus, dengan biaya lebih murah separuhnya, dan waktu penyelesaian yang lebih cepat separuh dari biasanya.
Saya percaya tidak semua orang setuju dengan pendapat ini. Saya menuliskan ini untuk mengingatkan kita semua bahwa bersama JK, kita melihat ada satu ide, satu cita-cita yang luhur.
Ide yang luhur itu menjadi bermakna karena ia lahir dan akan dijalankan oleh seorang pemimpin yang reputasinya sudah teruji melalui penyelesaian berbagai masalah bangsa yang sangat pelik seperti Ambon, Poso, dan Aceh.
Idealisme JK menjadi luar biasa buat saya, karena ia bukan pengamat, tapi seorang pelaksana. Ia mengatakan apa yang sudah dan akan dia lakukan untuk bangsa ini.
Mungkin JK akan kalah dalam pilpres. Bukan itu yang penting buat saya. Yang terpenting adalah bagaimana ide dan cita-cita yang luhur ini memberikan inspirasi kepada bangsa ini untuk meningkatkan kemandirian dan harga diri bangsa ini.
Bila JK kalah, mungkin ia akan segera hilang dari pentas politik nasional paling telat September tahun ini. Saya ingin hilangnya JK dari pentas tidak menghilangkan ide-idenya yang mulia itu.
Mohon maaf kepada yang kurang berkenan.